Home » , » Kisah Pilu Dibalik Pembuatan Patung Pancoran

Kisah Pilu Dibalik Pembuatan Patung Pancoran

Written By Unknown on Selasa, 01 April 2014 | 03.31

Patung Pancoran atau Patung Dirgantara berada di kawasan Pancoran, Jakarta Selatan. Tepat di depan perkantoran Wisma Aldiron Dirgantara yang dulunya merupakan Mabes TNI AU. Posisinya yang strategis karena merupakan pintu gerbang menuju Jakarta bagi pendatang yang baru saja mendarat di bandara Halim Perdanakusuma.

Patung ini dirancang oleh Edhi Sunarso tahun 1964 - 1965 dengan bantuan dari Keluarga Arca Yogyakarta. Berat patung perunggu ini mencapai 11 Ton dengan tinggi 11 Meter, dan pijakan patung mencapai 27 Meter. Pembangunannya dilakukan oleh PN Hutama Karya dengan IR. Sutami sebagai arsitek pelaksana.

Rancangan patung ini atas permintaan Bung Karno untuk menampilkan keperkasaan bangsa Indonesia di bidang dirgantara. Penekanan dari desain patung tersebut berarti bahwa untuk mencapai keperkasaan, bangsa Indonesia mengandalkan sifat Jujur, Berani dan Bersemangat.

Total biaya pembuatan Patung Dirgantara atau Patung Pancoran pada tahun 1964 adalah 12 juta rupiah. Dimana Biaya awal ditanggung oleh Edhi Sunarso, sang pemahat. Bung Karno menjual mobil pribadinya seharga 1 juta rupiah pada waktu itu. Pemerintah sendiri hanya membayar 5 juta rupiah. Sisanya, sebesar 6 juta rupiah, menjadi hutang pemerintah yang sampai saat ini tidak pernah terbayar.

Boleh dibilang Patung Dirgantara di Pancoran adalah peninggalan terakhir Bung Karno setelah Masjid Istiqlal, Tugu Selamat Datang dan Tugu Pembebasan Irian Barat.

Edhi ingat persis, ketika instruksi Bung Karno diterimanya. Hatinya sempat ragu-ragu. Dia belum pernah membuat patung dengan bahan perunggu. Sementara perintah Bung Karno jelas, ia menghendaki patung dengan bahan perunggu. Saat raut wajahnya sulit menyembunyikan perasaan hatinya, Bung Karno segera paham. Maka, berkatalah Bung Karno kepada Edhi,
“Hey Ed, kamu punya rasa bangga berbangsa dan bernegara tidak? Apa perlu saya menyuruh seniman luar untuk mengerjakan monumen dalam negeri sendiri? Saya tidak mau kau coba-coba, kau harus sanggup.”

Waktu satu minggu yang diberikan Bung Karno, dijawab tuntas oleh Edhi dan mewujudkan harapan Bung Karno dalam replika yang terbuat dari gypsum. Gaya melambaikan tangan layaknya orang menyambut kedatangan sahabat, diperagakan langsung oleh Bung Karno.

Proyek itu sempat terhenti. Peristiwa Gerakan 30 September PKI di tahun 1965, adalah pemicu terancam gagalnya pembuatan patung itu. Bung Karno menghadapi hantaman dari dalam negeri. Ia didemo nyaris tiap hari. Klimaksnya adalah penolakan MPRS atas pertanggungjawaban Bung Karno, terhadap peristiwa pemberontakan PKI. Buntutnya, Bung Karno dilengserkan dan Soeharto diorbitkan.

Nasib patung Dirgantara semakin terombang-ambing. Meski begitu, Bung Karno bukan manusia yang mengajarkan sikap yang kurang bertanggung jawab. Sekalipun nasibnya sendiri di ujung tanduk, Bung Karno tetap komit. Ia menyempatkan diri untuk memantau perkembangan proyek patung dirgantara.

Dengan nada prihatin, Edhi melaporkan kemandegan proyek tadi kepada Bung Karno. Dimana pemerintahan transisi tidak menggubrisnya. Edhi tak sanggup lagi meneruskan pekerjaan itu, mengingat dirinya pun sudah dililit utang untuk pekerjaan itu. Maklumlah, semua proyek pembuatan monumen yang ia kerjakan atas perintah Bung Karno, tidak menggunakan dokumen perintah resmi negara. Murni soal kepercayaan.

Tapi Bung Karno tetap keukeuh menuntaskan proyek terakhirnya, walau dalam status tahanan politik, dalam kondisi badan yang makin ringkih digerogoti sakit ginjalnya. Bung Karno lantas memanggil Edhi dan memberinya uang Rp 1,7 juta. Belakangan Edhi baru tahu, uang itu hasil penjualan mobil pribadi Bung Karno. Dengan uang itu, sekalipun belum cukup menutup semua biaya, Edhi berusaha menuntaskan pengerjaan patung Dirgantara.

Minggu 21 Juni 1970, di pagi hari, Edhie sedang berada di puncak Tugu Dirgantara. Tiba-tiba, melintas iring-iringan mobil jenazah Bung Karno, sang penggagas Tugu Dirgantara. Lemas lunglai Edhi mendengar berita itu. Ia pun langsung turun dari puncak Tugu Dirgantara, dan menyusul ke Blitar, memberi penghormatan terakhir kepada Putra Sang Fajar.

Belum usai duka berlalu, Edhi bersemangat menuntaskan amanat terakhir Bung Karno. Sekalipun pekerjaan itu meninggalkan utang negara. Sekalipun patung itu tidak pernah diresmikan oleh pemerintahan Soeharto. Tugu Dirgantara berdiri tegar, menggelorakan semangat, mengekspresikan wajah Gatotkaca, wajah perkasa yang menyimpan duka di balik pembuatannya.


Baca Juga: Wanita dan Penemuan Hebatnya

referensi:
http://www.eocommunity.com/Mistery-tentang-arah-acungan-tangan-Patung-Pancoran
http://jutaaninformasi.blogspot.com/2013/05/cerita-duka-di-balik-patung-pancoran.html
http://sejarah.kompasiana.com/2014/01/15/inilah-karya-edhi-sunarso-bagi-presiden-soekarno-624618.html
Share this article :
 
Copyright © 2014. Berita Unik dan Aneh Dunia - All Rights Reserved
design by maskolis published by mastemplate